Tanggungjawab

Tanggungjawab. Satu kata yang mempunyai makna yang sangat berat. Sangat mudah untuk diucapkan, akan tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Tanggungjawab tidak sekedar hanya berhenti pada pengucapan kata itu saja, yang terpenting adalah perbuatan kita sebagai konsekuensi dari kata tersebut.

Kisah ini saya baca dari ESQ Magazine yang mungkin akan membantu kita dalam melaksanakan kata tersebut, yang mungkin juga di masa sekarang ini banyak orang yang tidak sanggup menanggung konsekuensi dari kata tersebut.

Seorang wanita muda mengandung anak yang diperkirakan akan lahir cacat. Keluarga besarnya menganjurkan wanita itu untuk menggugurkan kandungannya. Namun, rasa keibuannya membuatnya memutuskan lain. “Ini anakku, darah dagingku sendiri, tidak mungkin aku gugurkan.” katanya.

Iapun kemudian melahirkan seorang bayi perempuan yang ternyata memang cacat. Bayi tersebut hanya mempunyai empat jari tangan, kedua kakinya hanya sebatas lutut, dan mengalami keterbelakangan mental. Berbeda dengan keluarganya yang menganggapnya aib dan memintanya agar menyerahkan anak itu ke panti asuhan, wanita itu tetap menyambut sang bayi dengan suka cita. “Bagiku, ia cantik,” ujar sang ibu tersebut.

Sungguh tak mudah baginya untuk membesarkan anak yang memiliki banyak kekurangan itu sendirian, karena suaminya justru membutuhkan perawatan darinya. Sang suami menderita lumpuh.

Ia mengajari anaknya bermain piano pada umur 7 tahun, padahal memegang pensil pun ia tak bisa. Kakinya tak mampu menginjak pedal, karena itu pedal piano ditinggikan. Keterbelakangan mentalnya, membuat si anak tidak bisa berhitung, padahal untuk main piano ada nada yang harus “dihitung”. Ia pun melatih anaknya dengan memindah-mindahkan tangannya, dan ia pun mengenalkan nada-nada. Ia memanggil guru piano untuk mengajari putri tercintanya itu. Untuk senantiasa meningkatkan kemampuannya, ia mengganti guru pianonya beberapa kali.

Namun, cobaan berat kemudian mendera, seluruh keluarga itu menderita sakit. Kaki si anak harus dioperasi, suaminya sakit semakin parah, dan wanita itu terkena kanker payudara. Namun, ia terus berjuang, mengatasi semua persoalan keluarganya.

Ketika si anak mogok main piano, ia terus memotivasi, “Tenang saja, Tuhan akan membantu dan berada di samping kamu. Karena kamu punya kekurangan, Tuhan pun pasti akan lebih memberi”.

Bertahun-tahun berlalu, anak itu kemudian menjadi pianis handal. Ia keliling dunia menggelar konser, meski hanya dengan empat jari. Pianis itu bernama Hee Ah Lee yang kini menjadi warga kehormatan Korea. Sukses Hee Ah tak mungkin bisa diraih tanpa sosok sang ibu. Berkat ibunya, ia mampu berkembang sesuai arti namanya: “Sukacita terus tumbuh seperti tunas pohon”.

Saya tidak bisa membayangkan apabila kisah tersebut terjadi pada saya. Apakah saya sanggup bertanggungjawab atas kehidupan saya. Sementara saat ini banyak orang yang tidak mampu bertanggungjawab atas apa yang di lakukan, banyak ibu yang membunuh bayinya, karena bayi tersebut hasil hubungan gelap. Ada orang yang membunuh keluarganya karena tidak sanggup menghidupi keluarganya. Ada orang yang tidak bertanggungjawab menghidupi keluarganya dengan melakukan korupsi.

Apakah saya dan anda termasuk orang yang bertanggungjawab? Jawabannya kembali kediri kita masing-masing.

Jika anda ingin mendapatkan artikel terbaru dari bluegreen lewat email, silahkan masukkan email anda, jangan takut gratis kok

Delivered by FeedBurner

This entry was posted on Sunday, August 10th, 2008 and is filed under Makanan Hati. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

RSS feed | Trackback URI

4 Comments »

Comment by Tendangan Bebas
2008-09-27 01:28:29

Harus punya motivasi yang kuat bro

Comment by bluegreen
2008-09-27 18:09:44

betul mas, dan perlu latihan juga dgn mulai bertanggung jawab dari hal-hal yang kecil

 
 
Comment by yunik
2008-10-04 16:10:25

wah…saya adalah contoh kongkrit blogger yang tidak bertanggung jawab, apakah ada hukuman Tuhan atas blogger seperti saya?pasti ada! tapi sebelum MUI keluarin fatwa, saya mau minta maaf terlebih dahulu…
mohon maaf lahir batin…

 
Comment by Masedewe
2008-10-22 23:46:18

aku jadi ingat ibuku
waduuuh
betapa aku lupakannya
betapa aku lukai-hatinya
betapa aku sakitinya

sudahlah
malah teko ndi-ndi

ok mas terimakasih atas
titip link ya..
bolehkan?
posting terakhir Masedewe adalah…Anti Pesta Blogger 2008

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
:( :ss :-$ =kkb =:k :x :lb :=n :=tt :)) :pl :cm :cc :bg =jb :-t :ls :gb :su :-? :tt =)) :p {k[ :kt =:no :-/ =cc ::ny =a =:sm =:sr
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post

Tempatnya Iklan

Belajar Web Bisnis Bisnis di Internet Reviewmu.com

Categories

Archives

Blogroll



Blogger Indonesia

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Add to Technorati Favorites